JEMBER KREASINDONEWS.COM – Warga binaan yang kini berada di Lapas Kelas II Jember bakal diberdayakan melalui industri kreatif. Tidak cukup hanya disitu, lokasi pembinaan warga lapas ini, juga akan diintegrasikan dengan markas Yonif 515 Jember.

“Ramah anak, ramah perempuan, dan yang terpenting adalah memulihkan mereka menjadi masyarakat yang mandiri, dan bukan hanya sekedar pelatihan dan pembekalan keterampilan kerja seperti sekarang, tetapi mereka akan terlibat secara langsung dalam proses produksi dan menghasilkan,” ungkap Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR saat menyambut Sekretaris Dirjen Pemsyarakatan pada Kementerian Hukum Ham, dra. Sri Puguh Budi Utami, Msi di Pendopo Pemkab Jember, Selasa (3/10/2017) malam.

Harapan untuk menjadikan Jember ramah anak dan ramah perempuan ini, lanjut Bupati Faida, juga akan ditunjang dengan penciptaan lingkungan lapas yang aman, nyaman dan edukatif.

“Kita tahu bahwa pendirian Lapas khusus anak dan perempuan tidak mudah, karena ada zona-zona khusus di setiap daerah dengan kriteria tertentu. Namun setidaknya, jika hal tersebut masih sulit terjangkau, ada proyeksi pembangunan Lapas yang terintegrasi supaya mereka lebih mandiri,” tambahnya.

Di lain pihak, Sekretaris Dirjen Pemsyarakatan Kemenkumham Sri Puguh menyampaikan apresiasinya kepada Bupati Faida, karena integrasi antara Lapas dengan industri kreatif saat ini sudah merupakan sebuah keharusan.

“Saya salut dan apresiate sekali dengan Bupati Faida, karena melihat Lapas bukan dari sisi negatifnya, tetapi warga binaan dinilai sebagai sebuah potensi yang besar, terlebih rata-rata warga binaan ini adalah tenaga produktif,” ujarnya.

Tidak berlebihan, jika pihaknya langsung menyempatkan diri untuk datang ke Jember bersama tim dari Dirjen, untuk melihat secara langsung kondisi lapas di Jember sekaligus mensurvey kemungkinan integrasi ini.

“Saya datang mendadak ini adalah bentuk apresiasi kami karena keinginan kuat dari Bupati Faida untuk mensejahterakan masyarakatya, tak terkecuali para warga binaan yang ada di lapas, dan hasil survey kami, semua faktor untuk integrasi tersebut memenuhi syarat,” ungkapnya.

Semangat dan ide ionatif ini lanjutnya sangat sejalan dengan arah pembangunan pemerintah saat ini, dimana pemberdayaan masyarakat menjadi prioritas utama.

“Bisa dibayangkan, jika hal ini bisa direalisasikan, para warga binaan bisa langsung bekerja dan aktif di industri kreatif, mereka dapat penghasilan dari sana, dan berapa penghematan uang negara karena hal ini. Dan yang lebih penting dari itu, mereka bisa pulih kondisinya karena ada hal produktif yang menghasilkan,” paparnya.

Tidak tanggung-tanggung, pihak Dirjen datang ke Jember dengan mengajak konsultan Lapas yang bakal memberikan arahan-arahan soal pembangunan lapas yang terintegrasi ini dengan orientasi ramah lingkungan, ramah psikologi dan sekaligus ada unsur pemberdayaannya.

“Lapas moderen seperti yang ditetapkan oleh PBB dan yang sudah kita rintis di sejumlah daerah, sudah tidak ada lagi pagar tinggi layaknya lapas yang ada sekarang, apalagi nanti bakal diitegrasikan dengan kompleks TNI, dan ini adalah terobosan yang strategis,” ungkap Purwo, konsultan lapas dari Jakarta.

Hal senada juga dilontarkan oleh Kepala Kanwil KemenkunHam Jawa Timur, Dr. Susy Susilawati, SH, MH. Menurutnya, overload penghuni lapas di Jawa Timur sendiri saat ini sudah mencapai 200%, dan di beberapa lapas sudah mencapai 500%.

“Persoalan kelebihan kapasitas, sudah satu persoalan bagi kami, tetapi jika ada ide kreatif dan apalgi sekarang sudah disurvey untuk integrasi dengan industri kreatif, hal itu akan sangat luar biasa, karena memang sudah ada pergeseran paradigma soal lapas,” jelasnya. Jika dulunya tujuan lapas adalah agar penghuninya jera dan tidak mengulangi perbuatannya, tetapi kini, lanjut Susy, sudah lebih dari itu.

“Untuk membuat jera saja tidak cukup, tetapi mereka harus lebih berdaya, sehingga yang dimaksud dengan jera, adalah saat mereka keluar lapas, mereka sudah bisa mandiri, dan terlebih nanti ada penerapan industri kreatif saat di lapas,” tambahnya.

Akan ada banyak potensi yang bisa dikembangkan, khususnya di Kabupaten Jember, mengingat cukup banyak produk-produk unggulan dari Kabupaten Jember. “Ada batik, ada kopi, ada kerajinan, ada macam-macam dari Jember ini dan itu bisa digarap oleh para warga binaan, dan tempat mereka nantinya terintegrasi juga dengan markas militer, akan ada banyak program yang bisa dikembangkan untuk kesejahteraan mereka,” tambahnya.

Kunjungan sejumlah pihak terutama dari Kementerian Hukum Ham ini adalah ‘oleh-oleh’ Bupati Faida saat melakukan kunjungannya selama beberapa hari di Jakarta beberapa saat lalu. Bahkan, sehari setelah kunjungan Bupati Faida ke KemenkumHam, Sekretaris Dirjen Pemsyarakatan langsung datang ke Jember untuk melakukan survey soal kelayakan pengembangan warga binaan lapas yang terintegrasi dengan penerapan industri kreatif Jember, sekaligus integrasi lokasi lapas dengan markas Yonif 515 Jember.

Sementara untuk tempat atau lokasi realisasi perencanaan ini, masih bakal dibicarakan lebih lanjut antara Pemkab Jember dengan Kementerian HukumHam. Turut Hadir dalam acara tersebut, Kepala Kantor imigrasi Jember, Kartana, Kepala Balai Pemsyarakatan Jember, I Putu Astawa dan sejumlah staf di Dirjen Pemasyarakatan KemenkumHam dari Jakarta. (ksn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here