Kreasindonesw.com –  Bupati Jember dr Hj Faida, MMR dan Wakil Bupati Jember Drs KH Muqit Arif, menerima penghargaan dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), sebagai inisiator Kabupaten menuju Kabupaten Jember Layak Anak, Sabtu (23/9/2017) siang.

Penghargaan berupa plakat disampaikan langsung Menteri PPPA Prof Dr Yohana Susana Yambise, di acara Festival Egrang VIII Tanoker di Desa Ledokombo, Kabupaten Jember. Sebuah Desa terpencil yang berjarak 28 kilometer (Km) dari pusat kota Jember.

Gayung bersambut penghargaan itu sekaligus menegaskan komitmen Bupati dan Wakil Bupati sebagai Kepala Pemerintahan terhadap perlindungan terhadap anak di daerah. Bupati baru saja menandatangani komitmen Kabupaten Layak Anak (KAL) sesuai 22 janji kerja di point terakhir, menjadi Kabupaten Jember aman (selawat), ramah anak, lansia, perempuan dan difabel.

Sebelumnya, Menteri PPPA Yohana Susana, memberi pesan bahwa  hak anak sangat dibutuhkan dilindungi karena anak membutuhkan waktu untuk berkreasi. Dan kreasi itu adalah  hak anak. Sesuai konvensi hak anak yang telah diratifikasi Presiden RI Joko Widodo.

“Saya berpesan kepada Bupati untuk menggerakkan LSM, masyarakat untuk menjalankan komitmen  tersebut. Dan bisa bekerjasama dengan kementerian PPPA, karena kementerian ini memberdayakan kaum perempuan dan kami memberikan bantuan industri rumahan bagi ibu – ibu,” ujarnya.

Program matching yang bisa disinergikan adalah program tumbuh kembang anak, yang kini ditangani staf khusus Kemen PPPA yang selama ini dijalankan dengan program Pusat Pembelajaran bagi Keluarga (Puspaga).

“Ini bisa dikolaborasikan dengan family learning centre yang dibuat di Desa (Tanoker) ini yang sudah dilakukan sehingga akan semakin hebat program kita yang kita mulai dari desa – desa yang melibatkan semua stakeholder untuk menciptakan  desa ramah anak. Dengan begitu akan mempercepat  Kabupaten ini menjadi Kabupaten layak anak,” ujar Menteri Yohana.

Kata Menteri, bahwa deklarasi yang dibacakan Bupati dan anak Jember itu harus direspon positif. Inisiasi untuk menjadikan Jember layak anak tentu saja dengan berbagai kriteri perencanaan, program, baik kesehatan, hingga pendidikan untuk memenuhi hak anak.

 Sekadar diketahui,  melalui Ketua  Panitia Tanoker Ledokombo, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Sabtu (23/9/2017), Festival Egrang VIII Tanoker iikuri oleh komunitas dari  Jawa, NTT, NTB, Makasar, Garut, Yogjakarta, Malang, Madura dan Jember sendiri.

Festival Egrang VIII ini adalah puncak kegiatan rutin setiap tahun. Festival Egrang ini dilakukan kali pertama sejak  2010. Festival Erang kali ini tepat sewindu. Tanoker melalui Egrang adalah cara anak setempat di Desa Ledokombo menghadapi tantangan dan fenomena buruh migrant.

Masyarakat menghadapi tantangan melakukan pengasuhan anak saat ditinggal orangtua mereka dalam waktu  panjang ke luar negeri. Masalah pengasuhan anak yang kurang baik, kepentingan anak tergerus, dan daya dukung kurang sempurna direspon masyarakat melalui  permainan tradisional Egrang di  Tanoker.

Tanoker berasal dari Madura. Tenoker. Artinya kepompong. Penggagasnya adalah keluarga pasangan Supomo – Cicik.  Diharapkan Tanoker atau kepompong sebagai wadah bagi anak – anak untuk mencetak dan mengasah kemampuan, berserikat dan menambah wawasan dalam kemampuan organisasi.

Berbagai kegiatan dilakukan melibatkan dan mengundang komunitas dari daerah lain seperti merancang pembelajaran berupa cross learning,  temu kenali modal untuk sumber inspirasi untuk menggerakkan perlindungan anak berbasis komunitas.

Festival ini didukung program peduli dari TAFF, mengundang dari komunitas dari wilayah lain yakni  dari Jawa, Garut, Yogjakarta, Malang, NTT dan NTB kita undang untuk, menggali dan mengenalkan kembali olah raga tradisional permainan yang hampir punah dan mengembangkan kecerdasan emosi kreativitas, sosialisasi dan motorik anak. (ksn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here