Bupati Jember dr Hj Faida MMR saat bertemu mantan pejabat Pemkab Jember mengajak untuk bangun Jember bersama-sama

JEMBER KREASINDONEWS – Ada pernyataan menarik saat para mantan pejabat Pemkab Jember bertemu Bupati Jember dr Hj Faida MMR hari ini. Ada harapan besar, Bupati Faida bisa merubah perilaku masyarakat dan birokrasi Jember agar berpegang prinsip tegak lurus.

Hal ini terkuak saat Komunitas Lansia yang tergabung dalam Paguyuban Tombo Ati Kangen, bersilaturahmi dengan Bupati Jember, dr. Hj. Faida, MMR di ruang Tamyaloka, Pendapa Wahyawibawagraha.

Dalam kesempatan tersebut,  Ketua Paguyuban Tombo Ati Kange, HM Fadhalah juga sempat menyampaikan agar Bupati Faida menjelaskan perihal pandangan masyarakat tentang disharmoni hubungan eksekutif dan legislatif di Jember.

“Pertemuan ini penting, karena sebagian anggota (Paguyuban Tombo Ati Kangen) merupakan tokoh di masyarakat. Sehingga kami bisa ikut membantu menjelaskan sebenarnya apa yang sedang terjadi,” kata HM Fadhalah, dalam sambutannya.

Fadhalah menilai, penjelasan bupati sangat dibutuhkan masyarakat, agar mereka tahu sebenarnya apa langkah yang telah diambil oleh pemimpin daerah. Apalagi, selama ini Bupati Faida juga dikenal senang membuat kejutan dalam setiap kebijakannya dan dinilai pro rakyat, berpihak terhadap kelompok rentan serta duafa. Sehingga, sambung dia, apa yang tengah dilakukan pemerintah saat ini tidak menjadi isu liar yang malah kontra produktif dengan tujuan Pemkab Jember itu sendiri.

“Beliau senang membuat kejutan. Semoga apa yang dilakukan beliau ini dapat mengubah perilaku masyarakat Jember sesuai prinsip tegak lurus,” harap Fadhalah.

Dalam kesempatan itu, Mantan Asisten 2 Pemkab Jember ini, juga menyampaikan terimakasih atas respon Bupati Faida terhadap agenda kelompok lansia yang dia pimpin. Karena, respon yang diberikan cukup baik dan bahkan difasilitasi seluruhnya oleh Bupati Faida. Menurut Fadhalah, jika biasanya biaya pertemuan rutin yang dilakukan tersebut berasal dari dana patungan antar anggota, saat ini semuanya dibiayai oleh pemkab.

“Semoga pertemuan ini dapat berkontribusi dengan memberi masukan, saran, bahkan kritik yang membangun. Karena kami yakin Ibu Bupati tidak alergi terhadap hal tersebut,” ucapnya, menandaskan.

Sementara itu, dalam sambutannya Bupati Faida mengatakan, jika sebenarnya bukan hanya para lansia saja yang ingin bertemu dalam acara silaturahmi ini, tapi dirinya juga merasa kangen. Hal itu, karena Ia tidak mau ditinggal sendiri dalam membangun Jember. Untuk itu, Faida mengajak para lansia tersebut bersama-sama membantu pemerintah dalam menyukseskan pembangunan di kabupaten setempat.

“Saya juga takut ditinggal sendiri. Apalagi, bapak ibu adalah mantan pejabat dan pemimpin di zamannya. Saya ingin sinergi ini untuk masyarakat. Karena saya meyakini, semua ini kuasa Allah, minta ndak bisa, nolak ndak bisa. Dan saya juga tidak pernah bercita-cita menjadi bupati,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati Faida juga mengajak para lansia yang mantan pejabat dan pemimpin Jember ini kembali terlibat dalam melanjutkan pembangunan di Jember. Ia meminta mereka jangan hanya menjadi penonton. Salah satu caranya, adalah menjadi posko pengaduan dan posko tangisan masyarakat. Sehingga para lansia di Paguyuban Tombo Ati Kangen, bisa menjadi jembatan yang dapat menghubungkan persoalan masyarakat ke pemerintah daerah.

“Mulai hari ini bukalah pintu seluasnya, dan harus dibantu sebisanya. Misalnya ada anak tetangga yang tidak bisa sekolah atau warga miskin yang tidak mendapat beras jatah, maupun rumahnya mau ambruk. Terima. Sambungkan kepada kami. Apalagi disini ada Pak Fadhalah dan Pak Bagong,” ujar Faida.

Lebih lanjut Faida menyebut, di Jember rasio jumlah lansia dengan penduduk lainnya adalah 1:10. Artinya, setiap 10 penduduk di Jember ada satu lansia yang tinggal. Untuk itu, pada masa pemerintahannya, Ia berkomitmen agar lansia tetap berdaya. Sehingga keberadaannya bisa berkontribusi terhadap pembangunan di Kabupaten Jember.

“Kami akan membuat taman lasia, sehingga bisa menjadi sara berkumpul para lansia. Karena lansia lebih bahagia bila ketemu dengan sesamanya,” katanya.

Menjawab apa yang disampaikan sebelumnya, Bupati Faida menegaskan, bahwa apa yang dilakukannya hanyalah sebatas melanjutkan apa yang telah dilakukan pemimpin-pemimpin Jember sebelumnya. Sebab dirinya meyakini, jika saat ini ada orang yang bisa berteduh di bawah pohon, itu karena 25 tahun lalu ada yang menanamnya. Bukan mendadak tumbuh dan bisa menjadi tempat berteduh. Namun, kalaupun ada perubahan pada masa pemerintahannya, Faida menegaskan, itu karena perubahan adalah keniscayaan dan itupun sesuai dengan masanya. Sebab, menurut Faida, semua itu ada masa dan semua juga ada zamannya.

“Saya ingin membuat perubahan. Karena terkait nasib rakyat saya tidak mau kompromi,” tegasnya.

Faida juga tak memungkiri, jika pada masa kepemimpinannya ada yang bingung menghadapi caranya memimpin. Apalagi, sebagai perempuan pertama yang menjadi Bupati Jember, awalnya masih ada yang meremehkan, bahkan ada yang menganggap cerewet dan khawatir kebijakan dan keputusan-keputusannya dikendalikan orang lain. Namun, seiring waktu berjalan, anggapan itu tertepis dengan sikap tegas, sehingga tak sedikit yang terkejut dengan gebrakan-gebrakan program kerjanya tersebut.

“Pas keluar tegesnya, ada yang semaput, ada yang santai-santai. Yang santai-santai saya tanya, kenapa? Katanya tidak kaget, karena sebelumnya juga pernah punya pemimpin perempuan yang teges,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Bupati Faida meminta media massa di Jember menyuarakan semangat para lansia yang merupakan pensiunan pejabat dan pemimpin di Jember ini. Sehingga para pejabat yang saat ini masih memegang amanah terinspirasi dan terlecut komitmennya oleh semangat para purnabhakti praja tersebut dalam membangun daerah. (ksn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here