KREASINDONEWS.COM – Tidak ada program tanpa risiko. Itulah yang diyakini Bupati Jember dr Hj Faida MMR ketika menjalankan roda pemerintahan di Kabupaten Jember. Tetap berpegang teguh pada prinsip 3B (Baik Tujuannya, Benar Hukumnya, Betul Caranya), dia tetap teguh pendirian untuk menjadi bupati yang amanah dan berpihak pada kepentingan masyarakat. Berbagai kritikan, cercaan, fitnah, dan hujatan, dijadikan sebagai energi untuk melakukan perubahan yang lebih baik. “Tidak ada program tanpa risiko. Semua pasti ada risikonya,” ujar Bupati perempuan pertama di Jember ini.
Lulusan cumlaude pascasarjana Universitas GajahMada (UGM) ini juga sempat menceritakan awal mula dirinya maju dalam pemilihan bupati. “Keputusan maju menjadi calon bupati Jember muncul dari dorongan kuat hati saya yang telah dibulatkan tekadnya oleh Allah SWT. Setelah mendapat restu dari orang tua dan keluarga, maka dengan berharap ridho Allah, saya memutuskan maju sebagai calon bupati,” ujarnya.
Keteguhan hati Faida tidak lepas dari didikan orang tuanya dengan ditempa berbagai banyak pengalaman hidup. Tidak hanya sekedar teori, tapi langsung mengaplikasikan dalam setiap tindakan. “Semasa masih hidup, orang tua saya, termasuk Abah saya (Alm dr Musytahar Umar Thalib) memberikan keleluasaan bagi anak-anaknya untuk mandiri dan memilih karir. Dari awal, Abah memberi peluang, mendorong, membina, membangun, membagi tanggung jawab, dan membagi peran menyangkut gender,” ujarnya.
Faida mengalami sendiri bagaimana Abahnya memberikan keleluasaan terhadap apa saja yang dia lakukan. “Abah hanya bilang, boleh. Abah tidak pernah melarang anaknya berbuat sesuatu,” jlentrehnya. Melakukan perubahan dan menjadi perintis, kata ibu dua putra ini, memang tidak mudah dan banyak risikonya. Tapi semuanya harus dihadapi dengan kukuh pada tujuan dan visi.
“Namanya perintis itu sudah takdir. Bersyukurlah kalau diberi kesempatan berjuang dan merintis. Rasanya nikmat tiada tara. Walau orang lain menderita dan kita menderita, tapi peluang menjadi perintis, patut disyukuri,” ungkapnya.
Banyak pengorbanan yang harus dilakukan, baik waktu, tenaga, maupun pikiran, yang kadangkala tidak diketahui banyak orang. Mulai pagi hingga dini hari, dia bersama para pejabat yang lain menyusun perencanaan pembangunan agar dalam pelaksanaannya, uang rakyat benar-benar termanfaatkan dengan benar sesuai peraturan yang berlaku.
“Betapa bahagianya membuat dari yang belum ada menjadi ada. Tidak peduli ukurannya besar atau kecil. Dan itu saya lihat dan rasakan sendiri. Kalau sudah suara hati mengatakan ini harus dikerjakan, maka harus diperjuangkan terus. Jangan mau mundur. Kalau bisanya baru sebatas itu, itu dulu dilaksanakan. Tidak usah ditunda-tunda lagi,” ujarnya.
Tidak heran bila saat Faida dihujat, difitnah, dikritik, dan dicerca, dia tetap melangkah ke depan demi perubahan Jember lebih baik. Menurut dia, menjadi pemimpin seperti menjadi dirijen, harus bisa mengarahkan gerakan, mendinamisasi, serta mengorganisir langkah.
Rupanya berbagai langkah dan prinsip hidup Faida ini tidak lepas pula dari ajaran orang tuanya, sebelum meninggal. “Soal kerja di mana, mau menikah sama siapa, mau berkarir apa nantinya, orang tua ngomongnya cuma satu. Satu jawaban untuk tiga pertanyaan. Miliki yang kamu cintai, cintai yang kamu miliki. Kamu ingin jadi dokter, ya cintailah dengan segala keruwetan profesi. Kamu ingin jadi pimpinan, ya cintailah dengan segala keruwetannya sebagai seorang pemimpin,” ujarnya. (ksn/bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here