KREASINDONEWS.COM – Era kepemimpinan duet Bupati Jember dr Hj Faida MMR dan Wakil Bupati Jember Drs KH Muqit Arief memang berbeda. Jika tidak bisa memahami pemikiran keduanya, bisa jadi akan salah menafsirkannya. Menjalankan roda pemerintahan dengan prinsip `Tegak Lurus` taat pada aturan memang tidak mudah membalikkan telapak tangan. Terlebih, masih banyak pegawai yang masih menganut cara lama. Tapi secara bertahap, terus dilakukan agar para pegawai Pemkab Jember bisa melayani masyarakat dengan baik, tanpa harus melanggar aturan. Baik Tujuannya, harus benar hukumnya dan Betul Caranya. “Ketiganya tidak bisa ditawar-tawar lagi,” ujar dr Hj Faida MMR, Bupati Jember.
Bupati Faida menjalankan pemerintahan memang sedikit dengan cara-cara berbeda. Pihaknya benar-benar memberikan warning kepada seluruh abdi masyarakat, jangan sampai ada pungli ataupun uang pelicin dalam melayani masyarakat. Ini juga telah ditunjukkannya saat ada kenaikan pangkat secara gratis tanpa biaya, pengangkatan kepala sekolah tanpa dipungut biaya, pelantikan pejabat tanpa biaya sepersenpun, pemindahan dan penempatan pegawai tanpa pungli, serta gebrakan gebrakan lainnya. Bahkan, untuk memastikan bahwa beberapa bantuan untuk masyarakat tepat sasaran dan pada orang bersangkutan, Faida sampai-sampai memilih menyerahkan langsung kepada masyarakat. Bukannya tidak percaya pada pegawai di tingkat bawah, namun Faida hanya ingin memastikan bahwa bantuan tersebut benar-benar sampai, tepat sasaran, dan tanpa adanya pungutan.
Memang ribet dan membutuhkan energi dan waktu yang luar biasa. Tapi bagi Faida, kontrol harus diperketat. Seorang pemimpin harus tahu detail apa yang diurus. Satu-satunya cara, bagi Faida adalah dengan mengetahui langsung secara detail berbagai urusan di pemerintahan. Secara bertahap, langkah-langkah tersebut telah dilakukannya. Pagi hari hingga dini hari, hampir tiap hari pekerjaan membenahi birokrasi Faida lakukan. Meski masih ada beberapa kritikan, cercaan, bahkan fitnah, hal tersebut dimaknai sebagai sebuah risiko ketika menjadi bupati Jember.
“Niat saya maju dalam pilkada, hanya berharap ridho Allah. Hidup sekali haruslah bermanfaat bagi banyak orang. Manusia diberi dua tangan, satu untuk membantu diri sendiri, satunya untuk membantu orang lain,” ujar Faida, dokter lulusan cumlaude pascasarjana UGM ini.
Faida juga sempat menjelaskan, awal-awal mengapa dirinya sampai nekat maju ke dunia politik dengan mencalonkan diri sebagai bupati. “Waktu itu, saya berniat maju sejak aksi kemanusiaan yang saya lakukan mulai ada hambatan. Untuk itu, saya berpikir bila saya mempunya kewenangan sebagai bupati, saya bisa berbuat banyak untuk rakyat dan menggerakkan banyak pihak untuk membantu masyarakat secara luas. Sebenarnya, posisi bupati tidak menarik bagi saya, tetapi kewenangan sebagai bupati itulah yang menjadi daya tarik saya untuk maju sebagai bupati,’ ujar bupati perempuan pertama di Jember yang gemar melakukan aksi kemanusiaan untuk dhuafa ini.
Menurut Faida, kebahagiaan itu ketika kita memberi, bukannya menerima. Semakin banyak memberi, semakin bahagia dan nikmat Allah akan ditambah. Maka, kata Faida, masyarakat harus digerakkan untuk semakin banyak menolong sesama, menjalin persaudaraan dan persatuan. “Persahabatan itu terdiri dari telinga yang mau mendengar, hati yang mau memahami, dan tangan yang siap menolong,” ujarnya. (bersambung)  (ksn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here