KREASINDONEWS.COM – Ketegaran jiwa dan kebesaran hati Bupati Jember dr Hj Faida MMR dalam menghadapi tantangan, rintangan, dan hambatan, hingga cercaan, ketika menjalankan roda pemerintahan, ternyata tidak lepas dari didikan orang tuanya sejak kecil.
Tak heran bila Faida tidak silau dengan penciptaan opini miring maupun semerbak pujian yang ditujukan padanya. Rupanya, Faida sudah terbiasa dengan keadaan tersebut dan lebih memilih fokus pada visi dan pencapaian tujuan merealisasikan 22 janji kerja duet pasangan Bupati dan Wakil Bupati Jember dr Hj Faida MMR – Drs KH Muqit Arief.
“Saya dibesarkan orang tua bukan dengan pujian. Abah (panggilan ayah Faida, Alm Musytahar Umar Thalib) jarang memberi pujian. Sampai saya bilang, kalau kita kerja sama orang lain, kita ini sudah ditepuk-tepuk pundaknya. Bagus kamu Nak, rajin kamu Nak. Kita ini jarak ditepuk-tepuk sama Abah. Namanya orang biasa, tentunya perlu juga pujian dan ditepuk-tepuk,” ujar Faida, putri nomor 4 dari lima bersaudara pasangan Musytahar Umar Thalib dan Widad ini.
Namun Faida menerima semua itu dengan lapang dada, karena memahami betul ada maksud tersembunyi dari tindakan orang tuanya. “Abah cuma bilang, Abah tahu bukan itu yang kau butuhkan Nak. Buat apa diberi pujian. Tidak terlalu kamu butuhkan. Itu orang lain bisa beri. Tapi Abah tahu harus memberimu apa.” ujar Faida, ibu dua putra ini.
Tidak hanya itu saja, dulunya Faida juga tidak mengerti maksud ayahnya yang pernah menjabat Direktur RS Krikilan Banyuwangi, yang selalu melibatkan anak-anaknya dalam pekerjaannya. “Setelah berkeluarga dan punya anak, saya baru sadar, itu semua ternyata tidak sekadar bermain. Banyak pelajaran yang didapat untuk bekal hidup selanjutnya,” ujar Faida, peraih penghargaan Satya Lencana dari Presiden RI ini.
Tidak heran ketika cibiran, sorotan, hinaan, cacian, hujatan, diarahkan pada Faida saat menjalankan roda pemerintahan di Jember, Faida tidak terlalu merisaukan hal itu. Faida tetap fokus pada pencapaian tujuan melayani rakyat dengan baik, menjalankan roda pemerintaan tanpa korupsi, hapus pungli, serta mewujudkan birokrasi bersih, sesuai janji kerjanya saat dipilih menjadi bupati Jember. Faida menyadari, dengan jumlah penduduk lebih dari 2,5 juta jiwa, tidak mungkin semuanya akan terpuaskan dengan langkahnya.
Faida tidak memerlukan pujian, Faida tidak memerlukan pencitraan. “Bukan itu yang ingin didapat. Saya hanya ingin hidup saya yang sekali ini, bermanfaat bagi banyak orang,” paparnya. Ini mengingat, kata Faida, ketika sudah tiada, hanya amal baik perbuatan kita yang bisa menolong. Semua ucapan, tindakan, langkah, serta kebijakan yang diambil, dipastikan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Baik di dunia maupun di akherat.
Untuk itulah, Faida memilih menjalankan roda pemerintahan dengan benar dan sesuai aturan berlaku dengan cara tegak lurus, menganut prinsip 3B. Baik tujuannya, benar hukumnya, betul caranya. Dirinya ingin membuat kebijakan-kebijakan yang mampu merubah jalan hidup banyak orang.
Meski banyak rintangan, cibiran, fitnah, dan hujatan terhadap langkahnya, hal itu dijadikan oleh Faida sebagai penyemangat dalam bekerja. Kuncinya, kata Faida, tetap fokus pada visi dan pencapaian tujuan demi kepentingan masyarakat secara luas. (ksn/bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here