Kreasindonews.com – Keseriusan kementerian perhubungan menindaklanjuti instruksi presiden agar pembangunan bandara Notohadinegoro Jember segera dibangun tahun 2018 sebagai bandara embarkasi haji  benar-benar ditunjukkan. Setelah menteri perhubungan turun lansung ke Jember beberapa waktu lalu, kemarin giliran Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan RI, Agus Santoso datang langsung ke Jember.

Dirjen Agus Santoso bertemu langsung Bupati Jember dr Hj Faida MMR. Agus melakukan persiapan awal terkait start pengerjaan fisik Bandara Notohadinegoro, Kabupaten Jember, awal 2018 mendatang. “Januari 2018 kita telah anggarkan,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo juga telah menyampaikan pembangunan bandara embarkasi haji akan selesai dalam waktu 2 tahun. Pembangunan dimulai tahun 2018 dan harus sudah selesai tahun 2019. Anggaran yang disediakan sekitar Rp. 400 miliar

Dirjen Agus Santoso kemarin landing menggunakan pesawat Garuda Indonesia di Bandara Notohadinegoro, Sabtu (2/9/2017), disambut Bupati Jember dr Hj Faida MMR, dan sejumlah pejabat di lingkungan Dinas Perhubungan Pemerintah Kabupaten Jember.

Agus langsung melakukan  pengecekan kondisi bangunan terminal bandara dan  fasilitas eksisting bandara saat ini selama beberapa jam. Selain itu juga memeriksa kondisi runway dan site plan pengembangan bandara.

Langkah itu sebagai progress lanjutan atas perintah Presiden RI, Joko Widodo, sekaligus mematangkan desain dan rencana pengerjaan fisik yang akan diawali pada awal tahun ini.

 Kemenhub RI melakukan langkah percepatan terhadap perintah Presiden Jokowi – yang mengamanahkan agar  Bandara Notohadinegoro segera dibangun menjadi Bandara Embarkasi Haji dan Umroh Antara. Untuk itu Agus Santoso, tercatat sudah tiga kali berkunjung  ke Jember.

Agus Santoso mengatakan, kunjungannya ke Jember adalah dalam rangka kroscek lapang sebelum pengerjaan beberapa fasilitas sarana bandara dimulai.

Dijelaskan, program pengembangan Bandara di Jember merupakan bagian dari Nawa Cita Presiden Jokowi, nomor 7. Sebelumnya, di tahun ke tiga ini Nawacita Jokowi,  membangun dari pinggiran telah dimulai.

“Kami dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah membangun sejumlah Bandara – bandara di pinggiran, mulai dari Miangas, Pulau Rote,  Anambas, dan bandara di daerah Papua telah digarap marathon  serta dikembangkan. Itu adalah Nawacita membangun dari  pinggiran,” tegasnya.

 Memasuki  tahun ke – 4 ini, Presiden RI Jokowi, mengembangkan Nawa Cita ke-7 yakni merealisasikan pengembangan kemandirian ekonomi melalui pengembangan tempat – tempat strategis yang berpotensi ekonomi, salah satunya Jember.

 Jember merupakan daerah potensial. Di sini merupakan sentral aktivitas penduduk di daratan Tapal Kuda. Selain penduduk sangat besar potensi  ekonomi juga sangat baik, karena ada Pusat penelitian Nasional Kakao, dan Kopi, dan dekat dengan potensi wisata dunia Gunung Ijen, yang indah dan menarik.

 “Ini yang membuat Jember dipilih sebagai daerah yang potensial secara wisata, dan culture. Karena memang Jember berisi malting culture antara suku Madura dan Mataraman, serta potensi wisata religi yang tinggi. Dan itu menjadikan kami dari  Ditpostel Perhubungan  Udara, akan membangun Bandar Udara Embarkasi Haji Antara,” ujarnya.

 Dia tahu bahwa Bandara  Jember  adalah satu satunya Bandara  yang dicreate  (dibangun ,red) secara purely (murni) dari Pemerintah Daerah sejak awal. Akhirnya, atas kebijakan Presiden Jokowi kemarin, akan dinaikkan menjadi Bandara Embarkasi Haji Antara.

“Untuk itu kami  harus menata seluruhnya, baik konstruksi dan panjang runway (landasan,red) dari eksisting (yang ada,red) 1.705 meter dan bisa didarati pesawat jenis ATR saja dipanjangkan menjadi 2.500 meter. Sehingga pesawat jenis boeing, jet berbadan besar dan medium bisa landing di Jember,” ujarnya.

  Pada 1 Januari 2018, telah dianggarkan untuk memperpanjang landasan menjadi 2.250 meter sebagai fase pertama. Dan membangun fasilitas lain. Fase ke – dua tahun 2019 meningkatkan panjang landasan menjadi 2.500.

“Lebar landasan juga ditambah, karena eksisting sekarang  30 dijadikan 45 meter dan diperkuat. Karena strength landasan belum memenuhi syarat saat ini untuk didarati pesawat bermesin jet kelas medium dan berbadan lebar,” ujarnya.

Terkait status tanah bandara  nantinya menunggu hasil rapat dari Pemerintah Daerah  bersama Kementerian BUMN yang akan dilakukan Bupati bersama BUMN.

Yang penting katanya, Bandara Jember  seperti yang  disarankan Presiden Jokowi, dikembangkan sehingga bisa menjadi services (melayani, Red) jamaah haji dan umroh yang bisa langsung dari kota asal, Jember.

“Sehingga jamaah tak perlu repot – repot pergi ke Surabaya, dan Solo. Bandara nantinya cukup kuat  menampung pesawat berbadan lebar selain Surabaya, Solo dan Jakarta.  Hal itu tentu saja dalam rangka menjadikan masyarakat lebih mudah bisa terbang dari kampungnya, salah satunya di Jember ini sebagai salah satu yang digariskan Presiden Jokowi untuk memberi kemudahan bagi jamaah haji,” ujar Agus Santoso, yang sempat mencicipi suguhan barista Pendopo, berupa kopi asli Jember.(ksn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here